KARYA TULIS CERPEN



Berikut merupakan sebuah cerpen “Pembantaian Kala Senja”  yang menceritakan makna dari sebuah perjuangan sejati yang di dalamnya terselip nilai kemanusiaan. Tergambar jelas bahwa ayah merupakan tokoh yang tidak mungkin dilupakan selain ibu....

PEMBANTAIAN KALA SENJA
Oleh: Arde Candra Pamungkas
(SMAN 11 YOGYAKARTA)

            Terik matahari terasa menyengat pori-pori kulit, tanah yang gersang juga tak luput menambah panasnya udara siang itu. Namun, entah kenapa tak menghentikan kegiatan mereka. Orang-orang dengan seragam yang terus bekerja untuk pemerintah mereka. Aku sedikit bingung, melihat banyak sekali orang seperti mereka yang melewati perbatasan kota ini. Mereka semua bersenjata, muka mereka penuh coretan, memakai topi besi dan membawa tas ransel besar beserta isinya, mungkin peluru atau amunisi yang sengaja disiapkan untuk menembus kulit orang atau hanya sekedar berjaga-jaga saja.
Saat itu tengah berdiri melamun di depan tembok perbatasan kota, temanku Franklin. Ia hanya melihat dan memperhatikan langit. Memang banyak pesawat tempur yang dari tadi terbang di atasnya dan di langit kota itu. Entah apa yang akan mereka lakukan. Mungkin juga bersiap untuk perang. Sejak dulu aku memang sering melihat pertumpahan darah di wilayah ini. Konflik yang sejak lama berkecamuk di negara ini, terutama di kota itu, entah apa penyebabnya. Mungkin karena hal sepele atau hal serius, yang aku tahu hanyalah sejak lahir aku sudah hidup diantara gelegar hamburan peluru yang setiap saat terdengar dari arah kota.
            “hey frank, ngapain loe?, Tanyaku kepadanya. Seketika lamunannya terpecah mendengar suaraku.
            ”kamu john, kukira siapa”
            ”ngapain dari tadi disini? Mau ngliat banjir darah atau mau berpartisipasi jadi orang yang nyumbangin darah buat tanah disini”, sindirku.
            ”dari tadi aku binggung, tumben banyak orang dan pesawat tempur yang lewat ya. Biasanya hanya orang berseragam dan pistolnya, mondar mandir tak jelas di sana”, balasnya sambil menunjuk arah kota.
            ”ah, tak usah kau pikirkan. Tak ada gunanya untuk kita”.
            Mungkin yang kukatakan ada benarnya. Tak perlu Ia pikirkan masalah ini. Namun, sebenarnya aku juga sering memikirkan masalah serupa, karena dulu aku pernah tinggal di kota itu sampai akhirnya kami mengungsi ke wilayah perbatasan ini. Tapi sebenarnya aku sedikit prihatin melihat apa yang terjadi di sana. Apakah aku harus diam melihat pemandangan yang setiap hari tersaji di hadapanku. Pemandangan yang bisa dibilang tidak manusiawi. Setiap hari juga kulihat pasti ada upacara kematian di kota itu.
            Beberapa saat setelah aku berbicara dengan frank, tiba-tiba saja salah satu pesawat yang tadi melintas di atas kami, yang sekarang berada di atas kota itu menjatuhkan sesuatu. Hingga kami sadar apa yang terjatuh dari perswat itu. Bukan terjatuh, tapi memang sengaja dijatuhkan dari pesawat itu. Saat dentuman keras disertai hamburan debu berterbangan kemana-mana.
            ”gila, sekarang bukan hanya satu dua yang pasti mati”, teriak frank.
            ”mungkin loe bener, tapi siapa yang mau mengadakan upacara untuk mereka. Tak ada yang tersisa dari mereka”
            ”ya, mereka semua. Itulah nasib mereka yang menentang kekuasaan dan kita semua tahu, bukan mereka yang salah. Tapi mau gimana lagi”, ujarku.
            Konflik yang terjadi sudah dari dulu, akhirnya harus berakhir dengan cara seperti itu. Seingatku ayah pernah berkata kalau awalnya mereka hidup damai dan sejahtera sampai muncul penguasa baru yang ingin memiliki tanah itu. Perlawanan penduduk seperti tak ada artinya. Mereka hanya bermodal batu dan kayu, sedangkan lawan mereka menggunakan senjata modern. Sudah jelas tak imbang tapi mereka tetap saja mempertahankannya. Mungkin karena hal itulah, aku diungsikan ke daerah perbatasan kota ini. Aku beruntung karena tidak terlibat secara langsung dalam perang itu. Pemerintah telah menganggap mereka sebagai pemberontak. Namun, mereka tetap saja berjuang untuk sesuatu yang memang seharusnya menjadi milik mereka.
            Lagi-lagi setiap masalah harus diselesaikan dengan jalan kekerasan. Salah satunya perang.

Entri Populer