PESONA KUNTUL DAN BLEKOK DI KETINGAN, SLEMAN, DIY



Oleh: Arde Candra Pamungkas 
SMA Negeri 11 Yogyakarta

            Bosan dengan suasana kota yang setiap hari ramai? Kini, saatnya anda melirik suasana yang ditawarkan di desa. Keadaan pedesaan yang alami, tenang, sejuk, jauh dari kebisingan kota, tentunya akan membuat pikiran kembali segar dan membuat hati anda nyaman.
Jika anda berminat, sekarang ini di Yogyakarta banyak berkembang desa wisata yang menawarkan keunikannya. Salah satunya desa wisata Ketingan yang masuk wilayah Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Letaknya tidak terlalu jauh dari pusat Kota Yogyakarta, yakni sekitar10 kilometer ke arah barat.
            Hal yang paling menarik dari Ketingan adalah keberadaan ribuan burung kuntul dan blekok; hewan berkaki panjang dan berleher panjang yang sekarang sudah langka di Pulau Jawa. Banyak orang menganggap kedua burung ini sama. Namun, sebenarnya ada parbedaan di antara blekok dan kuntul, yaitu pada saat terbang blekok meluruskan lehernya. Sedangkan burung kuntul, saat terbang lehernya membentuk huruf ”s”.
Sejak1994
Burung blekok (Egreta, sp)
 
Keberadaan kuntul dan blekok di desa ini sendiri, berawal sekitar tahun 1994. Pada tahuntersebut entah kenapa kedua spesies burung ini bermigrasi ke Ketingan. 
Burung kuntul(Ardeola, Sp)
 
Hal ini juga menyebabkan banyak perburuan liar terjadi di Desa Ketingan, dan karena perburuan liar tersebut, populasi kuntul dan blekok menjadi terancam. Akhirnya pada tahun 2002 wilayah Ketingan dijadikan desa pelestarian fauna langka, sehingga perburuan di desa ini dilarang.
Bagi warga sekitar, keberadaan kuntul dan blekok menjadi anugerah tersendiri meskipun harus ada pengorbanan untuk melestarikannya, yaitu masalah aroma yang kurang sedap dari kotoran kedua jenis burung tersebut. ”Kalau hujan memang tercium bau kurang sedap karena kotoran burung blekok”, ujar Agung (18), salah seorang warga sekitar. Namun, keberadaan kuntul dan blekok yang ada di Ketingan juga membawa berkah, yaitu desa ini sekarang menjadi terkenal di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Kenyataan ini tentunya akan mempercepat pembangunan desa ini.
Untuk anda yang ingin berkunjung ke Ketingan, dapat menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum yang melewati jalur dekat dengan desa wisata ini. Akses ke desa wisata ini juga cukup mudah, karena dapat ditempuh melalui berbagai jalur. Untuk jalur utara, wisatawan dapat melewati Jalan Kebon Agung. Dari Terminal Jombor, ikuti jalan tersebut sampai tiba di perempatan Cebongan, kemudian ke arah selatan sekitar 500 meter. Bila sudah sampai di Polsek Mlati beloklah ke timur sekitar 500 meter. Kalau lewat jalur timur, masuklah dari ringroad barat. Persisnya di Selokan Mataram arahkan kendaraan ke arah barat. Sampai di jembatan, ikuti jalan yang ada tanjakannya. Kira-kira 1 km, sampailah anda. Bagi wisatawan yang ingin melalui jalur selatan, dari Jalan Godean, tepatnya perempatan Munggur, lajukan kendaraan ke arah utara kira-kira 3 kilometer. Sampai di Polsek Mlati, beloklah ke timur sekitar 500 meter.
Ketika wisatawan sudah sampai di desa wisata Ketingan, wisatawan akan disuguhi pemandangan fauna yang luar biasa indahnya. Ribuan burung kuntul dan blekok berdatangan pulang ke sarangnya di antara rerimbunan pohon-pohon besar. ”Biasanya pada sore hari, banyak burung blekok dari arah barat pulang ke sarangnya”, ujar Arli (16) yang juga tinggal di dekat desa Ketingan. Pemandangan seperti itu tentu saja bisa dinikmati jika waktu kunjungan anda tepat, yaitu sekitar pukul 17.00. Burung-burung berwarna putih bersih itu seakan menyatu dengan suasana alam Ketingan, menciptakan keasrian desa, menghadirkan  kedamaian.
Desa kerajinan
Puas menikmati keindahan fauna, wisatawan bisa menelusuri lebih dalam desa nan unik yang juga memiliki berbagai hal yang berbau tradisional. Di antaranya adalah kerajinan bambu, jamu, dan industri emping mlinjo. Untuk kerajinan bambu sendiri, Desa Ketingan memiliki pusat pembuatan sekaligus penjualan kerajinan ini, yaitu sebuah pasar yang cukup besar dan terletak di pinggir jalan sehingga untuk menemukan pasar ini cukup mudah. Berbagai kerajinan yang terbuat dari bambu ada di pasar ini, seperti meja, kursi, berbagai properti lain, sampai alat-alat musik, seperti angklung. Harga yang ditawarkan cukup murah jika dibandingkan dengan harga di tempat lain.
Untuk industri emping mlinjo dan jamu tradisional, wisatawan bisa menemukannya di dalam desa. Kedua komoditas dari Ketingan ini memang belum begitu dikenal wisatawan, namun paling tidak keduanya bisa dijadikan buah tangan saat anda berkunjung ke desa ini. Produksi emping mlinjo di Ketingan, didukung dengan banyaknya pohon mlinjo di daerah ini. Mungkin juga karena alasan banyaknya pohon, terutama pohon mlinjo di Ketingan, maka tahun 1994 banyak burung kuntul dan blekok yang bermigrasi ke desa ini.
Sedangkan untuk produksi jamu tradisional, banyak dilakukan oleh para lansia atau orang tua. Menurut pembuat jamu di Ketingan, setiap harinya hanya dibuat beberapa jenis jamu saja, diantaranya kunir asem dan beras kencur. Jamu buatan desa ini pun bisa dibilang masih asli, karena resep racikan yang turun temurun dan belum terakumulasi dengan resep lain.
Untuk menikmati keragaman yang ada di Desa Ketingan, wisatawan telah disediakan peta wilayah yang akan membantu mereka untuk menelusuri setiap sudut desa. Papan pengumuman yang melarang perburuan liar terhadap fauna di sana juga ada.. Saat berwisata, perasaan cemas atau takut tersesat harus dibuang jauh-jauh, karena penduduk dengan ramah juga akan membantu para wisatawan. Mereka paham benar bahwa sikap ramah, sopan, dan tulus merupakan keunggulan desa Ketingan yang mayoritas penduduknya orang Jawa asli. Orang Jawa yang terkenal dengan unggah ungguh-nya atau tatakrama yang baik, dan itu terlihat jelas di desa ini.
==============

Postingan Populer