[Mozaik Blog Competition 2014] Risalah Mata Pena

Event Mozaik Blog Competition sponsored by beon.co.id
Sebenarnya untuk apa menulis? Sejenak aku terdiam dan teringat sebuah kalimat yang pernah tertulis di atas blog pertamaku, “Manusia tak hidup selamanya, maka menulislah untuk abadi”. Bagaimana bisa dengan menulis manusia menjadi abadi? Ya, mungkin secara fisik semua manusia akan mati pada akhirnya. Namun, para pemikir besar seperti Albert Einstein, para penulis hebat layaknya JK Rowling akan selalu terkenang seumur hidup manusia karena karya-karya yang mereka tulis. Apa yang mereka tulis telah menjadi prasasti yang selalu dikenang orang. 

Tapi aku yang dulu tak pernah memikirkan itu semua. Sampai saat ini, aku tak mengerti mengapa dulu memulai menulis. Pun tak pernah mengharapkan penghargaan lebih untuk setiap kalimat sederhana yang aku tulis. Bahkan pada awalnya, merupakan sebuah kehormatan jika ada yang mau membaca tulisanku dan mengomentarinya. Menulis merupakan caraku untuk menekspresikan diri, karena pada dasarnya aku bukanlah orang yang pandai beretorika secara lisan. 
 Pernah suatu ketika waktu SMA, sempat tak enak hati ketika mengkuti berbagai kompetisi menulis di sekolah, karena ibuku adalah guru bahasa di sekolah. Dua kali menjadi juara, satu menulis essay dan satunya lagi puisi di sekolah, mungkin sudah bisa tertebak apa yang ada dibenak teman-temanku pada waktu itu. Tapi sudahlah, akulah yang paling mengerti diri sendiri. Pun dulu ibuku tak pernah mengarahkanku menjadi penulis, begitu juga dengan juara yang pernah ku dapat dulu. Ibuku tak pernah tahu aku mengikuti perlombaan tersebut. Sama halnya dengan tulisan ini, tak ada yang tahu sampai dirimu membacanya. Aku bukan penulis hebat, apalagi penasihat ulung. Aku pun hanya manusia biasa yan bahkan masih sering menulis dengan ketidakjelasan pikiranku. 
Jarang bagiku untuk mengungkapkan pikiranku secara langsung kepada orang. Tapi, aku memiliki pena sebagai alat. Lewat pena inilah aku menggoreskan apa saja, dari cerita-cerita historis yang menakjubkan hingga logika tak beraturan di otakku. Kadang, kalau mengikuti naluri membuatku ingin menulis sesuatu yang tak dimengerti oleh orang banyak. Aku ingin melihat, seberapa banyak orang yang mengerti tulisanku yang penuh ketidakjelasan itu. 
Tak lupa terucap terimakasih untuk teman-temanku atas setiap catatan kalian yang sangat inspiratif bagiku. Dari sanalah aku banyak belajar, belajar untuk mengerti apa yag belum aku mengerti sebelumnya. Menulis pun membuat aku paham siapa diriku. Banyak dari kawan-kawan yang menganggap aku pendiam. Ya, memang demikian adanya. Aku lebih nyaman menyampaikan pemikiran-pemikiranku melalui tulisan. Bagi aku menyampaikan ide malalui coretan-coretan lebih nyaman, terurut, dan sistematis. Meski aku juga tahu bahwa kepandaian dalam bertutur kata lisan pun sangaat penting untuk dikuasai. Tapi menulis adalah cara yang kupilih. Tulisan ini contohnya, dengan adanya tulisan ini dirimu tahu apa yang ada ipikiranku saat menuliskanya. Pun dengan saat dirimu menulis. saat membacanya aku akan tahu isi dari pikiranmu. Bukanlah bertukar pikiran dan berbagi pengalamnan adalah hal yang menyenangkan. Maka menulislah.

Entri Populer