Manunggaling Kawulo Sosmed

Don Tapscot, salah satu pengamat teknologi dalam bukunya yang berjudul The Digital Economy, Promise, and Peril in the Age of Networked Intelligence menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dunia sedang mengalami perubahan dari dinamika masyarakat industri yang berbasis pada pembangunan fisik, seperti baja, kendaraan, dan jalan raya. Beralih ke masyarakat ekonomi baru yang dibentuk oleh silicon, komputer dan networking atau jaringan. Ditandai dengan intensitas yang tinggi penggunaan dan pertukaran teknologi informasi. Salah satu produknya yang banyak digunakan adalah jejaring sosial.

Bentuk dan jenis jejaring sosial pun beragam. Ennoch Sindang mengutip dari tulisan Lester Voit dalam ebook Manfaat Jejaring sosial dalam Ranah Pendidikan dan Pelatihan membagi karakteristik jejaring online khususnya jejaring sosial menjadi lima.


Pertama, partisipasi, di mana jejaring sosial mendorong kontribusi dan umpan balik dari setiap orang yang tertarik. Kedua, keterbukaan, jejaring sosial mendorong voting, komentar dan berbagi informasi. Ketiga, Percakapan, informasi bisa bertukar dari dua arah. Keempat, komunitas, jejaring sosial memungkinkan komunitas terbentuk dengan cepat dan dan berkomunikasi secara efektif.  Kelima, keterhubungan, jejaring sosial berkembang pada keterhubungan mereka. Memanfaatkan link ke situs lain, sumber daya dan orang-orang di sekitarnya.

Dari karakteristik jejaring sosial tersebut, artinya jejaring ini benar-benar memfasilitasi terjadinya komunikasi dua arah dengan cepat dan masif. Luasnya ruang relasi, seseorang bisa mendapatkan perhatian banyak orang dalam waktu singkat. Meski dalam bentuk berupa like, ataupun komentar terhadap apapun yang di postingnya. Hal inilah yang memberi kita kebebasan mau menjadi seperti apa dan dianggap bagaimana oleh orang lain di jejaring sosial. Kita bahkan bisa membangun pencitraan yang berbeda dengan realitas nyata dari seseorang.

Terkadang lucu, jika mendapati fenomena yang terjadi dari adanya jejaring sosial. Seperti salah satu teman di kampus yang memiliki dua karakter berbeda saat ia berada di dunia nyata dengan di dunia maya. Ia memiliki cara berbicara yang kontras saat berkomunikasi di jejaring sosial dan kesehariannya di kampus. Saat beraktifitas di kampus ia menjadi orang yang sangat jarang berbicara. Tapi, kalau dilihat track record-nya di jejaring sosial, ia merupakan sosok yang banyak bicara dan bisa dibilang “alay” dalam berkomentar.

Identitas diri dan lingkungan sangat erat kaitan dan kepentingannya. Ida Fajar Priyanto dalam tulisannya yang berjudul “Identitas Diri dan Dunia Maya” menjelaskan lingkungan terpenting seseorang adalah orang lain. Di dunia maya ataupun nyata, meski kita membangun identitas, memaknai, dan membangun branding atas diri kita, orang lain lah yang menilai. Sama seperti yag diungkapkan Floridi, salah seorang filusuf informasi. Ia mengatakan kita saling membangun identitas dan itu mempersulit kita untuk membangun identitas diri. Banyak orang berbicara tentang diri kita dengan interpretasi sendiri. Lalu menghasilkan identitas diri kita dari kacamata orang lain.

Meski pada dasarnya kita bebas menentukan akan menjadi siapa diri kita, terlepas dari pendapat orang lain. Entah itu saat berada di ruang nyata ataupun maya. Namun, yang harus digaris bawahi, tak semua teman di jejaring sosial kita kenal di dunia nyata. Bahkan terkadang seseorang menjadi begitu dekat dengan orang yang jauh dan menjadi begitu jauh dengan orang yang sebenarnya dekat. Sampai-sampai ungkapan retoris, jejaring sosial menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
Dalam ilmu fisika, kata maya digunakan untuk ruang yang berada di belakang cermin. Nia Aprilianingsih dalam tulisannya yang berjudul “Dunia Maya dalam Perbandingan” dalam buku Online menjelaskan bahwa dunia maya merupakan dunia yang “dilipat”. Artinya, dunia maya memiliki kemampuannya memampatkan ruang dan waktu secara bersamaan. Interaksi antar akun yang merepresentasikan diri seseorang di jejaring sosial terjadi dengan sangat mudah tanpa ada batasan geografis.


Entri Populer