Manusia Modern.. katanya

Akeh wong ngutamakake royal
lali kamanungsane, lali kebecikane
lali sanak lali kadang
akeh bapa lali anak
akeh anak mundhung biyung
sedulur padha cidra
keluarga padha curiga
kanca dadi mungsuh
manungsa lali asale


Banyak orang hamburkan uang
lupa kemanusiaan, lupa kebaikan
lupa sanak saudara
banyak ayah lupa anaknya
banyak anak mengusir ibunya
antar saudara saling berbohong
antar keluarga saling mencurigai
kawan menjadi musuh
manusia lupa akan asal-usulnya
***
Bait di atas bisa menjadi refleksi betapa semrawutnya sistem kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari sistem sosial budaya, ekonomi, politik yang kian hari makin bergerak kearah yang tidak tentu. Bukan bermaksud percaya pada hal-hal klenik seperti ramalan. Namun, sepenggal bait dari ramalan jayabaya dari abad 12 tersebut secara nyata menggambarkan kondisi yang dialami masyarakat kita sekarang. Keadaan masyarakat yang mulai terkurung dalam lingkaran ke-modern-an. Dalam kondisi seperti ini masyarakat mulai teralienasi dan lupa akan asal-usulnya.

Seorang sosiolog, Peter L. Berger, menunjuk komunitas masyarakat modern telah mengalami anomie, yaitu suatu keadaan di mana setiap individu manusia kehilangan ikatan yang memberikan perasaan aman dan kemantapan dengan sesama manusia lainnya. Sehingga menyebabkan kehilangan pengertian yang memberi petunjuk tentang tujuan dan arti kehidupan di dunia ini. Seolah kita selalu curiga terhadap sesuatu, kita menjadi manusia yang tidak mudah untuk percaya.


Dalam sebuah forum keagamaan, Emha Ainun Najib, sapaan akrab Cak Nun, menceritakan bahwa manusia Indonesia sekarang sudah tidak lagi percaya kepada kemurnian. Kebanyakan selalu menaruh curiga akan suatu perkara dan menganggap selalu “ada udang di balik batu”. Kecurigaan yang bersifat waspada memang diperlukan. Namun, dalam kasus ini sifat waspada lebih mengarah kepada stereotip ataupun prasangka yang tidak baik terhadap sesuatu.

Meminjam istilah dari Heracleitos, “Pantarhei”; dunia memang selalu dalam perubahan. Sama halnya dengan masyarakat yang selalu berkembang dari fase satu ke fase lain. Masyarakat kita juga mengalami perkembangan, kebudayaan kita menyesuaikan perkembangan zaman. Dan saat ini kita telah sampai pada abadnya teknologi. Sebuah titik di mana masyarakat lebih mengamini kebenaran logis, kebenaran ilmu pengetahuan.

Nilai religius dan nilai kebudayaan lokal yang membangun konsep dasar bangsa ini mulai luntur. Sadar atau tidak kita telah digiring ke bawah payung positivism, di mana hanya hal-hal rasional yang akan diterima. Padahal ilmu pengetahuan yang diketahui manusia hanya sebagian kecil dari rahasia alam.

baca selengkapnya di http://ekspresionline.com/2015/10/17/manusia-modern-dan-keterasingan-pancasila/

Postingan Populer