Pelajari Kebenaran dan Matilah dengan Bahagia

sumber gambar: https://kembangpetedotcom2.files.wordpress.com/2014/04/konfusius.jpg

 “Pelajarilah kebenaran di pagi hari, dan matilah dengan bahagia pada malam hari”
Konfusius (551-479 SM)



Barangkali tak ada seorang pun yang memiliki pengaruh yang lebih besar dalam pikiran dan kehidupan masyarakat Tiongkok seperti halnya Konfusius. Seorang guru besar, pemikir, filsuf, yang falsafahnya tetap digunakan sampai sekarang.


Pria dengan tinggi hampir dua meter dan tubuh yang kuat ini sama sekali tak tertarik mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang prajurit, pekerjaan yang paling disegani di Tiongkok pada waktu itu. Ia merupakan seorang pemikir, meski tak pernah merasakan pendidikan formal. Ia menyukai buku, terutama buku mengenai kebijaksanaan raja-raja dari masa lalu yang memerintah tidak dengan kekerasan dan penindasan, melainkan dengan kebijaksanaan.

Konfusius sering menceritakan kepada murid-muridnya bagaimana orang menikmati hidup dalam kedamaian dan kejayaan pada Dinasti Zhou (1100-770 SM). Ketika berusia lima belas tahun ia memusatkan pikirannya pada belajar. Pernah seharian ia berpikir tanpa makan dan semalaman tanpa tidur dan tidak mendapatkan apa-apa. Maka ia putuskan untuk belajar.

Melalui belajar sendiri Konfusius melatih dirinya menjadi seorang intelektual. Ahli dalam hal sosial, matematika, seni panah, menunggang kuda, musik, dan etika- enam hal yang pada waktu itu dianggap sebagai syarat menjadi seorang pria sejati.

Konfusius mulai mengajar saat ia berusia tuga puluh tahun, ia mengajarkan bagaimana mengasah pikiran dan memperoleh integritas. Pada waktu itu, pendidikan hanya dinikmati kaum elit-para bangsawan. Tetapi konfusius tidak mengikuti monopoli pendidikan tersebut. Ia mengumumkan menerima siapa saja yang ingin belajar. Ia merupakan guru pertama dalam sejarah Tiongkok yang memberikan edukasi privat kepada masyarakat umum.

Pun dalam memilih murid konfusius tak banyak syarat, hanya mempunyai keinginan dan semangat untuk belajar. Tujuan pendidikannya pun tak muluk-muluk, yaitu menjadikan muridnya pria sejati dengan pengetahuan dan bermoral. Ia banyak membahas mengenai kualitas pria sejati.

Suatu ketika seorang anak didiknya, Zilu diperintahkan untuk mencari air. Dalam perjalanannya Ia bertemu dengan seekor harimau, dan pertempuran pun tak terelakkan. Singkat cerita Zilu berhasil membunuh harimau tersebut dengan memegang ekornya. Lantas ia memotong ekor harimau tersebut dan berniat menunjukkannya kepada sang guru sebagai pembuktian bahwa ia mampu mengalahkan harimau.

Saat bertemu dengan Konfusius, Zilu bertanya, “bagaimanakah seorang yang hebat membunuh harimau?”. Sang guru menjawab, “Seorang yang hebat membunuh harimau dengan mengincar kepalanya”. Lantas Zilu kembali bertanya, “bagaimana seorang biasa membunuh harimau?”. Dijawablah oleh konfusius, “Seorang biasa membunuh harimau dengan mengincar telinganya”. Lalu Zilu kembali bertanya, “bagaimana seorang yang rendah membunuh harimau?”. Dan dijawablah,”Soerang rendah membunuh harimau dengan menarik ekornya”.

Mendengar jawaban tersebut Zilu malu dan marah, ia mengambil batu besar di atas punggungnya untuk membunuh konfusius. Lantas ia bertanya kepada sang guru,” Bagaimana seorang yang hebat, orang biasa, dan orang rendah membunuh seorang laki-laki?”. Konfusius pun menjawab,”Seorang yang hebat membunuh orang dengan penanya, orang biasa membunuh orang dengan lidahnya, dan orang rendah membunuh dengan sebuah batu”. Mendengar jawaban tersebut Zilu berbalik dan membuang batu tersebut.


Postingan Populer